Ritual Mesiwah Pare Gumboh, Aruh Adat Dayak Deah Balangan Kalsel yang Masuk Agenda Festival Budaya

Ritual Mesiwah Pare Gumboh merupakan ritual aruh adat suku Dayak Deah di Kalsel, khususnya Kabupaten Balangan.

Editor: Royan Naimi
banjarmasinpostwiki.tribunnews.com/Isti Rohayanti
Rangkaian ritual Mesiwah Pare Gumboh suku adat dayak Deah di Desa Liyu, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalsel. 

BANJARMASINPOSTWIKI.TRIBUNNEWS.COM, PARINGIN - Ritual Mesiwah Pare Gumboh merupakan ritual aruh adat suku Dayak Deah di Kalsel, khususnya Kabupaten Balangan.

Belakangan, ritual ini dijadikan sebagai festival budaya tahunan yang berlangsung pada bulan Juli atau Agustus.

Di Kabupaten Balangan, terdapat masyarakat Dayak Deah yang rutin melangsungkan gelaran yang dikenal sebagai aruh adat tersebut.

Mereka berada di Desa Liyu dan Gunung Riut, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalsel.

Baca juga: Profil Bupati Banjar H Saidi Mansyur, Bertekad Wujudkan Kabupaten Banjar Maju Mandiri dan Agamis

Baca juga: Profil Desa Alur Kabupaten Tanahlaut Kalsel, Sumber Penghasilan Utama Warga dari Hasil Perkebunan

Baca juga: Profil Bupati Tanahlaut HM Sukamta, Gemar Sendirian Blusukan

Apabila sebelumnya Mesiwah Pare Gumboh dilangsungkan secara sendiri-sendiri oleh warga setempat, beberapa tahun terakhir, mereka bersama-sama saling gotong-royong merayakan pesta panen.

Bahkan, kini arut adat Mesiwah Pare Gumboh juga dapat dinikmati oleh masyarakat luar.

Dalam kegiatan Mesiwah Pare Gumboh, ada sejumlah ritual adat yang digelar sebagaimana disampaikan Ketua Pokdarwis Desa Liyu, Megi yang juga satu tokoh penting dalam penyelenggaraan Mesiwah Pare Gumboh.

"Ada beberapa ritual adat yang wajib dilakukan pada kegiatan Mesiwah Pare Gumboh. Semuanya adalah bentuk syukur sekaligus doa agar selalu dijauhkan dari marabahaya," ucap Megi.

Dalam Mesiwah Pare Gumboh, biasanya warga Suku Dayak Deah menyiapkan makanan sehari sebelumnya.

Ada beberapa makanan wajib yang dibuat, semisal lamang dan sejumlah jenis kue traditional.

Kadang ada pula sajian-sajian dari kelapa bahkan ada sejumlah benda yang juga dimasukan dalam ritual.

Tetuha adat Dayak Deah Desa Liyu Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan Kalsel, mempersiapkan ritual Mesiwah Pare Gumboh.
Tetuha adat Dayak Deah Desa Liyu Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan Kalsel, mempersiapkan ritual Mesiwah Pare Gumboh. (banjarmasinpostwiki.tribunnews.com/Isti Rohayanti)

Kepala Desa Liyu, Sukri menerangkan, sejumlah ritual memiliki makna tersendiri.

Ada ritual yang menggambarkan nazar dari warga, menghantarkan perlengkapan mentah yang akan dimasak, tolak bala, mesiwah pare dan ritual adat lainnya.

Khusus tolak bala ujar Sukri, ritual tersebut adalah untuk meminta agar masyarakat terhindar dari bala.

Pelaksaan ritual adat Mesiwah Pare Gumboh di tengah pandemi Covid-19, Warga Desa Liyu jalankan protokol kesehatan gunakan masker di area balai adat.
Pelaksaan ritual adat Mesiwah Pare Gumboh di tengah pandemi Covid-19, Warga Desa Liyu jalankan protokol kesehatan gunakan masker di area balai adat. (banjarmasinpostwiki.tribunnews.com/Isti Rohayanti)

Apalagi saat ini sedang masa pandemi Covid-19. Sehingga doa pada tolak bala adalah harapan agar Covid-19 di seluruh dunia berakhir.

"Kami berharap melalui ritual tolak bala ini dapat mengakhiri wabah Covid-19 yang melanda saat ini," harap Sukri.

(banjarmasinpostwiki.tribunnews.com/Isti Rohayanti)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

  • Conny Dio

     
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved