Sejuta Orang Lakukan Unjuk Rasa di Chile Tuntut Reformasi Ekonomi, Sekitar 7 Ribu Orang Ditangkap

Dilaporkan lebih dari satu juta orang melakukan unjukrasa di Chile, Jumat, (25/10/2019), waktu setempat untuk menuntuk reformasi ekonomi.

Imago-images/Aton Chile/A. Pina kepada Deutsche Welle
Sekitar satu juta orang melakukan aksi turun ke jalan untuk menuntut reformasi ekonomi di Chile 

Satu juta demonstran dilaporkan berkumpul di jalan utama di Kota Santiago.

Sebagai satu kesatuan aksi, mereka bergerak bersama menuju pusat kota dan bergabung dengan demonstran lainnya yang datang dari daerah lain.

Mereka memberi julukan aksi mereka "Unjuk Rasa Terbesar di Chile" yang fokusnya adalah menuntut Pemerintahan Presiden Sebastian Pinera.

Beberapa hari sebelumnya, sejumlah supir angkutan umum di kota Santiago juga telah melakukan gerakan mogok kerja.

Di daerah kota pelabuhan Valparaiso, Chile, segenap anggota kongres dilaporkan telah dievakuasi.

Hal tersebut dilakukan setelah meletusnya tensi yang berujung bentrokan antara para demonstran dengan aparat kepolisian.

Sedengkan sekitar ribuan demonstran lainnya yang terseber di seluruh penjuru Negara Chile terus menerus bergabung dan mengajukan protes.

Tercatat 19 orang tewas dalam aksi unjuk rasa selama satu minggu terakhir ini di seluruh wilayah di Negara Chile.

Sedangkan ratusan orang terluka dan sebanyak 7.000 orang ditangkap.

Aksi sejuta masyarakat Chile ini mengharuskan pasukan militer turun tangan.

Menurunkan Tensi

Pemerintah Chile berusaha meredam gejolak aksi yang telah menelan korban jiwa dalam satu minggu terakhir ini dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan.

Pemerintah setempat telah menetapkan status darurat untuk merespon situasi dan kondisi yang terjadi.

Selanjutnya, pemerintah setempat juga menerapkan jam malam.

Kebijakan ini hadir setelah sejumlah oknum demonstran dilaporkan membakar stadion metro dan merusak sejumlah fasilitas publik.

Menteri Luar Negeri Chile, Teodoro Ribera setuju dengan dikerahkannya pasukan militer untuk meredam aksi unjuk rasa.

Meskipun terdapat klaim terlah jatuh korban akibat pasukan militer yang terus bermunculan, Ribera meneruskan usahanya.

"Perhatian kami yakni bahwa hak asasi manusia harus dihormati.

Ini juga termasuk soal ketertiban umum dan para bangunan yang dimiliki warga, agar tidak dirusak," ujarnya.

Pemerintah juga telah berusaha - untuk meredam aksi massa - menerapkan kebijakan-kebijakan baru pada awal pekan ini.

Ikuti kami di
KOMENTAR
8 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved